News & Article

News

Guru Idola dan Pembelajaran Mendalam: SMP MBS Wanasari Gelar Seminar Penguatan Profesionalisme Pendidik

Wanasari, 22 November 2025 — Dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran dan memperkuat karakter pendidik, SMP MBS Wanasari menggelar sebuah seminar bertajuk “Menjadi Guru Idola Melalui Pendekatan Pembelajaran Mendalam yang Berkualitas”. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu siang, bertempat di ruang guru SMP MBS Wanasari, mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai. Acara dipandu oleh fasilitator sekaligus pemateri utama, Puspita Dewi, S.Pd, dan diikuti oleh seluruh kelompok belajar guru SMP MBS Wanasari. Seminar diawali dengan pembukaan singkat yang menekankan pentingnya guru sebagai teladan utama dalam proses pendidikan. Dalam paparannya, Puspita Dewi mengangkat konsep pola pikir (mindset) sebagai fondasi profesionalisme seorang pendidik. Menurutnya, guru perlu membangun pola pikir berkembang, yakni kesediaan untuk terus belajar, beradaptasi, serta terbuka terhadap perubahan. “Guru yang hebat bukan hanya mereka yang mengajar dengan baik, tetapi yang terus berkembang bersama murid-muridnya,” ujarnya. Memasuki sesi berikutnya, peserta diajak menyelami konsep Guru Idola, yaitu sosok pendidik yang mampu menghadirkan pembelajaran bermakna, membangun kedekatan emosional, serta memberikan inspirasi bagi murid. Puspita Dewi menegaskan bahwa guru idola tidak tercipta hanya dari kompetensi akademik, melainkan juga dari integritas, kehangatan, dan kemampuan memahami kebutuhan peserta didik. Guru Idola, katanya, adalah mereka yang kehadirannya dirindukan dan ucapannya didengar karena keteladanan, bukan semata karena jabatan.   Sesi yang paling dinantikan adalah pemaparan terkait Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Dalam sesi ini, fasilitator menjelaskan pentingnya pergeseran metode mengajar dari sekadar transfer informasi menuju proses pembelajaran yang mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran mendalam menuntut guru untuk menciptakan suasana kelas yang menantang, relevan, dan berorientasi pada pemahaman konsep, bukan pada hafalan semata. Guru juga didorong untuk memberi ruang bagi murid untuk mengeksplorasi ide, berdiskusi, serta memecahkan masalah secara mandiri maupun kolaboratif. Puspita Dewi menambahkan bahwa pembelajaran mendalam mampu menumbuhkan karakter kemandirian, kreativitas, dan rasa ingin tahu pada peserta didik—tiga aspek penting yang harus dimiliki generasi masa kini. Ia juga memberikan contoh konkret strategi pengajaran yang dapat diterapkan di kelas, seperti teknik project-based learning, inquiry learning, serta penggunaan pertanyaan pemantik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para guru mengajukan pertanyaan seputar penerapan model pembelajaran mendalam di kelas, tantangan dalam membangun hubungan positif dengan peserta didik, hingga strategi meningkatkan motivasi belajar. Fasilitator memberikan tanggapan dengan lugas dan aplikatif, sehingga para peserta mendapatkan gambaran yang lebih jelas untuk diterapkan dalam praktik mengajar sehari-hari. Kegiatan ini ditutup dengan harapan bahwa seluruh guru SMP MBS Wanasari mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Seminar ini menjadi salah satu bentuk komitmen lembaga dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi terwujudnya pendidikan yang unggul, berkarakter, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan bekal wawasan baru, para peserta menyampaikan kesiapan mereka untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna bagi seluruh santri.

News

Santri SMP MBS Wanasari Kelas 7A Kembangkan Tempat Sampah Otomatis Berbasis Arduino

Wanasari, 11 November 2025 — Suasana penuh antusiasme tampak menghiasi ruang kelas 7A SMP MBS Wanasari pada Selasa pagi ketika para santri mengikuti pembelajaran berbasis proyek bertema teknologi. Dalam kegiatan bertajuk Proyek Pembelajaran Coding & AI, para santri berhasil merancang sebuah alat tempat sampah otomatis berbasis mikrokontroler Arduino Uno. Pembelajaran inovatif ini dibimbing langsung oleh Agung Diki selaku pembimbing dan fasilitator. Proyek ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa MBS Wanasari terus mendorong integrasi ilmu pengetahuan modern, khususnya teknologi digital, ke dalam proses belajar santri. Dengan pendekatan praktik langsung, santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam bentuk karya yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Tempat sampah otomatis yang dikembangkan oleh santri kelas 7A ini dirancang menggunakan Arduino Uno sebagai pusat pengendali sistem. Komponen utama yang dipakai meliputi servo motor sebagai penggerak tutup tempat sampah dan sensor ultrasonik sebagai pendeteksi keberadaan objek di depan tempat sampah. Ketika sensor mendeteksi objek seperti tangan atau sampah dalam jarak tertentu, servo akan secara otomatis membuka tutup tempat sampah sehingga memudahkan pengguna membuang sampah tanpa harus menyentuh permukaan wadah. Menurut pembimbing Agung Diki, proyek ini bertujuan menumbuhkan kreativitas, logika pemrograman, dan kemampuan pemecahan masalah sejak usia dini. “Santri harus dibekali kemampuan menghadapi perkembangan teknologi. Melalui proyek sederhana seperti tempat sampah otomatis, mereka belajar cara kerja sensor, logika program, serta bagaimana perangkat mekanik dan digital dapat bekerja bersama,” ujarnya. Selama proses pengerjaan, santri dibimbing mulai dari perakitan komponen, penyusunan rangkaian elektronik, hingga penulisan kode program pada Arduino IDE. Tantangan demi tantangan berhasil diselesaikan oleh para santri, seperti pengaturan sudut putaran servo, kalibrasi jarak sensor, serta penyusunan struktur program yang efisien. Kegiatan ini sekaligus melatih ketelitian, kerja sama kelompok, dan kesabaran dalam menyelesaikan proyek teknologi. Antusiasme santri terlihat jelas ketika alat berhasil diuji coba dan berfungsi dengan baik. Mereka menyaksikan langsung bagaimana rangkaian yang awalnya tampak rumit dapat bekerja secara otomatis sesuai perintah program. “Awalnya saya kira sulit, tetapi setelah mencoba ternyata seru dan menantang. Saya jadi ingin membuat proyek lain lagi,” ujar salah satu santri kelas 7A dengan penuh semangat. Pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan pada tingkat selanjutnya, termasuk integrasi dengan materi kecerdasan buatan dan Internet of Things (IoT). Melalui penguasaan teknologi sejak dini, santri MBS Wanasari diharapkan mampu menjadi generasi yang unggul, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Proyek pembuatan tempat sampah otomatis ini menjadi langkah kecil namun berarti dalam mendorong budaya inovasi di lingkungan SMP MBS Wanasari. Pembelajaran yang memadukan ilmu agama, karakter, dan teknologi ini membuktikan bahwa santri dapat berkembang menjadi pribadi yang berwawasan luas serta siap menghadapi tantangan di era digital. Dengan dukungan fasilitas dan bimbingan yang tepat, para santri terus menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya dan memberikan kontribusi positif untuk lingkungan sekitar.

News

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 di MBS Wanasari: Momentum Perbaikan Mutu, Penguatan Karakter, dan Penyatuan Visi Tenaga Pendidik

Brebes — Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menggelar kegiatan Pembinaan dan Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 pada Senin, 17 November 2025, bertempat di Aula MBS Wanasari. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.20 hingga 10.00 WIB ini diikuti oleh seluruh guru, staf, ustadz, dan ustadzah dari jenjang SMP dan SMA. Acara dipimpin langsung oleh Direktur MBS Wanasari, Ustadz Muhammad Al Hadad, S.Pd.I, dan diselenggarakan oleh MBS Wanasari sebagai bagian dari agenda refleksi internal lembaga. Dengan tema besar refleksi perjalanan Muhammadiyah yang telah mencapai usia 113 tahun, acara ini tidak hanya menjadi momen syukur atas perjuangan panjang persyarikatan, tetapi juga sebagai ajang evaluasi dan penyatuan langkah seluruh tenaga pendidik di MBS Wanasari. Direktur MBS menegaskan bahwa usia 113 tahun bukanlah usia yang muda. Menurutnya, perjalanan Muhammadiyah adalah bukti kesungguhan dan keteguhan dalam membangun peradaban melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Ia menambahkan bahwa perjalanan MBS Wanasari pada tahun ini pun menjadi masa yang cukup berat dan penuh tantangan. Karena itu, refleksi menjadi sangat penting agar seluruh pendidik dapat kembali pada tujuan awal lembaga. Dalam penyampaiannya, Ustadz Muhammad Al Hadad menekankan pentingnya penguatan karakter tenaga pendidik. Ia menyampaikan bahwa seluruh guru, ustad, dan ustadzah harus kembali pada visi dan misi MBS Wanasari yang menekankan keteladanan. “Kita harus menjadi teladan untuk santri, mulai dari cara berpakaian, kedisiplinan, hingga konsistensi melaksanakan salat berjamaah di masjid. Kemudian, kita harus menghindari konflik internal agar suasana pondok tetap kondusif,” ujarnya. Peningkatan Mutu Pendidikan Jadi Fokus Utama Refleksi pertama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah harapan besar agar MBS Wanasari dapat menjadi lembaga pendidikan yang lebih baik dan lebih maju. Para peserta berharap adanya peningkatan kualitas, baik dari aspek pendidikan umum maupun pendidikan kepesantrenan. Peningkatan mutu ini, menurut pembicara, perlu diarahkan agar MBS Wanasari semakin diminati para orang tua. Dengan demikian, MBS diharapkan menjadi tempat belajar yang dipercaya masyarakat. Dalam refleksi tersebut disampaikan pula bahwa mutu pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun citra positif di mata wali santri. Apabila lembaga mampu menunjukkan kualitas yang menjanjikan, kepercayaan masyarakat akan meningkat. Hal ini juga menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan pendidikan dan memperkuat keberadaan MBS Wanasari di Kabupaten Brebes. Ajakan Menyatukan Hati dan Pikiran Salah satu guru SMP MBS Wanasari, Ibu Puspita, S.Pd, turut memberikan pandangannya dalam sesi refleksi. Ia menyampaikan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan amanah pendidikan. “Satukan hati dan pikiran agar nantinya MBS bisa satu jalan dan satu tujuan,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan lembaga sangat bergantung pada keselarasan gerak para pendidiknya. Tanpa kebersamaan, setiap program akan berjalan tidak efektif dan sulit mencapai sasaran. Ia menekankan bahwa tenaga pendidik harus memiliki kesadaran kolektif bahwa setiap kebijakan dan kegiatan di MBS Wanasari membutuhkan dukungan dari semua pihak. Dengan kebersamaan tersebut, suasana kerja yang harmonis dapat tercipta, sehingga memberikan dampak positif bagi santri. Evaluasi Diri dan Perbaikan Pelayanan Pendidikan Dalam pembahasan berikutnya, para peserta refleksi menyoroti adanya penurunan tertentu yang terjadi akhir-akhir ini. Penurunan tersebut, menurut mereka, mungkin dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Di antara faktornya adalah menurunnya kepercayaan wali santri terhadap lembaga. Salah satu penyebabnya dapat berasal dari kurangnya kepedulian tenaga pendidik dalam membina santri. Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa tenaga pendidik harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja masing-masing. Evaluasi ini mencakup cara berkomunikasi, cara membimbing, hingga bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan positif. Upaya introspeksi diri tersebut menjadi sangat penting agar kepercayaan wali santri dapat kembali meningkat. Selain itu, perubahan juga perlu dilakukan dalam sistem pengelolaan pendidikan di pondok maupun sekolah. Dengan konsistensi dalam pembinaan, tenaga pendidik diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh potensi santri, baik akademik maupun nonakademik. Kekompakan dan Tanggung Jawab Kolektif Sesi refleksi juga diwarnai dengan penyampaian pesan dari Ustadz Hendi Sudono, penanggung jawab kemuhammadiyahan di MBS Wanasari Brebes. Ia menyampaikan bahwa membangun lembaga adalah hal yang mudah, namun mempertahankannya adalah tantangan berat. “Membangun itu mudah, namun mempertahankannya yang susah. Kita harus kompak, kerja sama, dan merasa memiliki tanggung jawab atas amanah yang diemban,” tuturnya. Ustadz Hendi menambahkan bahwa kekompakan bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi juga tentang saling menghargai peran masing-masing. Menurutnya, sebuah lembaga dapat bertahan kuat apabila seluruh elemen di dalamnya memiliki rasa kepemilikan dan komitmen yang sama besar. Motivasi untuk Terus Berprasangka Baik dan Berikhtiar Penutup kegiatan diisi dengan motivasi dari Ustadz Saiev Dzaky K., S.H., M.E. Ia mengingatkan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang memiliki prasangka baik. “Allah bersama hamba-hamba yang memiliki prasangka baik, maka kita harus selalu husnuzan dan selalu berikhtiar,” ucapnya. Pesan ini menjadi penyemangat bagi para pendidik agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi dinamika lembaga. Ia juga mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk terus menjaga integritas, semangat belajar, serta keikhlasan dalam mendidik santri. Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh struktur dan sistem, tetapi juga oleh ketulusan hati para pendidiknya. Kegiatan Pembinaan dan Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 di MBS Wanasari ini menjadi momentum penting bagi seluruh tenaga pendidik untuk menyegarkan semangat, menyatukan langkah, dan memperkuat kembali komitmen dalam membina santri. Dengan berbagai masukan, evaluasi, dan motivasi yang diberikan, MBS Wanasari berharap dapat terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang maju, terpercaya, dan mampu mencetak generasi berakhlak mulia.

Uncategorized

Sinergi Pendidik dalam Pembinaan Santri: Menegaskan Posisi Pondok sebagai Benteng Terakhir KaderisasiPersyarikatan

Brebes — Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) melalui pembinaan yang disampaikan oleh Bapak Yunus Anis memberikan dorongan kuat bagi para guru, ustad, ustadzah, serta seluruh tenaga kependidikan Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari Brebes untuk semakin memperkuat peran mereka sebagai pendidik dan pembimbing santri. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 17 November 2025, di Aula MBS Wanasari Brebes ini diselenggarakan oleh MBS Wanasari Brebes dan diikuti oleh seluruh guru, staf, ustad, serta ustadzah dari jenjang SMP dan SMA Muhammadiyah Wanasari Brebes. Pembinaan yang dilaksanakan sejak pukul 07.00 hingga 08.20 WIB tersebut bertujuan untuk membangun refleksi bagi para pendidik agar lebih dekat, merangkul, dan memahami santri maupun santriwati dalam berbagai dinamika yang mereka hadapi. Menurut Bapak Yunus Anis, tugas pendidik bukan hanya mengajar, melainkan juga mendampingi proses kehidupan para santri. “Kita menjalankan tugas mulia, mendidik para santri dan santriwati yang memiliki banyak problematika. Semoga hal ini menjadi proses pendewasaan bagi kita—guru, ustad, dan ustadzah—dalam menghadapi para santri,” ungkapnya dalam sesi pembinaan. Salah satu poin yang disoroti adalah kedisiplinan, baik di kalangan santri maupun para pendidik. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan keberangkatan santri kini semakin terpantau jelas dan harus menjadi contoh bagi para guru. “Kemudian para guru juga harus siap melaksanakan tugas tepat waktu,” ujarnya. Kedisiplinan, lanjutnya, bukan sekadar hadir tepat waktu, tetapi juga mampu menyelesaikan tugas secara efektif. “Disiplin itu tepat waktu, dan pulang cepat waktu,” tambahnya. Dalam pembinaan tersebut, Yunus Anis juga menekankan pentingnya pondok pesantren sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa pesantren merupakan benteng terakhir dalam menyiapkan generasi penerus persyarikatan. “Bahwa benteng terakhir untuk pengkaderan Muhammadiyah sebagai generasi penerus adalah pondok pesantren,” tuturnya. Oleh karena itu, para ustad dan ustadzah diharapkan semakin aktif, tidak hanya dalam penguatan kemampuan internal peserta didik, tetapi juga dalam publikasi dan peran sosial. Menurutnya, kemampuan santri harus dapat terlihat baik melalui media sosial maupun aktivitas nyata di masyarakat. Selain itu, ia mengingatkan bahwa hasil dari kerja keras pendidik akan memberikan dampak besar bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. “Saya akan mendapatkan sesuatu itu oleh keringat saya,” ujarnya, menegaskan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan membawa manfaat yang dapat dirasakan banyak pihak. Yunus Anis juga mengingatkan tentang kebutuhan emosional santri. Pada usia mereka, perhatian dari ustad dan ustadzah sangat penting untuk membangun kedekatan. Ia menambahkan bahwa santri membutuhkan ruang untuk merasa dihargai dan didengar. Dengan demikian, kelak mereka dapat bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka diperhatikan oleh para pembimbingnya. Di akhir sesi, ia mendorong agar pembelajaran di kelas maupun di pondok dapat mengalami perubahan yang lebih baik. Target peningkatan jumlah siswa pada tahun ajaran 2026/2027 juga menjadi perhatian. Peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan marketing sekolah disebut sebagai langkah penting agar santri merasa nyaman dan betah berada di lingkungan pesantren. Kegiatan pembinaan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi momen evaluasi dan penguatan komitmen seluruh pendidik MBS Wanasari Brebes dalam mencetak generasi unggul, disiplin, dan berkarakter. Dengan semangat baru, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi seluruh santri.

News

Tim Media MBS Wanasari Perkuat Kompetensi pada Pelatihan Manajemen Reputasi Digital PCM Wanasari

Wanasari, 16 November 2025 — Tim Media MBS Wanasari turut berpartisipasi dalam Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wanasari pada Ahad (16/11) di SMK Muhammadiyah Wanasari. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para pengelola media Aum serta Ranting untuk meningkatkan wawasan sekaligus memperkuat keterampilan dalam mengelola informasi di ruang digital secara profesional, akurat, dan berbasis nilai persyarikatan. Pelatihan menghadirkan dua narasumber kompeten yang memberikan materi secara komprehensif. Lukmanul Hakim, praktisi media digital, membawakan materi seputar dinamika media digital, pergeseran perilaku konsumsi informasi, serta strategi menjaga reputasi organisasi di era serbadigital. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa reputasi digital tidak hanya dibangun oleh konten yang diunggah secara resmi, tetapi juga oleh interaksi warga organisasi dalam aktivitas bermedia. “Setiap unggahan yang berhubungan dengan lembaga akan membentuk persepsi publik. Karena itu, tim media harus memahami etika digital, kecepatan menangkap isu, serta ketepatan merespons informasi. Reputasi di internet mudah naik, tetapi juga mudah turun bila tidak dikelola dengan baik,” ujar Lukmanul Hakim. Ia menambahkan bahwa konsistensi dalam menyajikan informasi yang bermanfaat, beretika, dan menggambarkan karakter Islami merupakan kunci menjaga citra organisasi. Sesi berikutnya dipandu oleh Thoridin, praktisi jurnalistik yang berpengalaman dalam penulisan berita. Ia menyampaikan materi mengenai teknik penulisan berita yang tajam, sistematis, dan sesuai kaidah KBBI. Tholidin menjelaskan bahwa kualitas informasi sangat dipengaruhi oleh ketelitian dalam memilih data, sudut pandang, serta kemampuan menyusun narasi informatif yang mudah dipahami pembaca. “Berita yang baik bukan sekadar panjang, tetapi harus tepat sasaran. Penulis wajib memenuhi unsur 5W+1H, menghadirkan fakta yang dapat diverifikasi, dan menghindari bahasa hiperbolis. Di era digital, berita yang rapi dan kredibel adalah aset penting organisasi,” ujarnya. Ia kemudian memberikan latihan kepada peserta, termasuk Tim Media MBS Wanasari, untuk membuat lead berita yang kuat serta menyusun struktur piramida terbalik yang menjadi ciri khas penulisan jurnalistik modern. Keikutsertaan Tim Media MBS Wanasari mendapat apresiasi dari penyelenggara, mengingat peran media sekolah kini semakin strategis dalam menyampaikan program, prestasi, serta kegiatan pendidikan kepada masyarakat. Pelatihan ini dianggap sebagai langkah tepat untuk meningkatkan profesionalisme tim sekaligus memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan PCM Wanasari. Ketua PCM Wanasari dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk meningkatkan kapasitas kader dan pegiat media agar lebih siap menghadapi tantangan era informasi. Menurutnya, reputasi digital merupakan aset penting dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif yang mengulas berbagai persoalan terkait etika publikasi, pengelolaan akun resmi, serta tips menyajikan konten pendidikan secara menarik tanpa mengurangi nilai informatifnya. Para peserta, termasuk Tim Media MBS Wanasari, tampak antusias mengikuti setiap sesi dan berharap pelatihan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Tim Media MBS Wanasari diharapkan semakin mampu menghasilkan publikasi yang profesional, akurat, dan mencerminkan karakter Islami, sehingga dapat memperkuat reputasi lembaga di mata masyarakat. Pelatihan ini menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan media yang berkualitas dan bertanggung jawab di era digital.

News

Program MBG : Langkah Awal Untuk Membantu Peningkatan Gizi dan Kesejahteraan Siswa

Brebes, 13 November 2025 — Program makan siang bergizi kini turut dirasakan oleh para santri di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari. Kegiatan bertajuk Makanan Bergizi (MBG) ini dilaksanakan setiap hari pada jam makan siang di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya menikmati hidangan sehat dan bergizi, tetapi juga mendapatkan tambahan berupa susu kotak atau buah segar. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah melalui kebijakan Presiden untuk memastikan generasi muda Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. MBS Wanasari menjadi salah satu lembaga pendidikan yang mendukung penuh pelaksanaan program tersebut, sejalan dengan visi meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini. Ibu Nurul Fadilla,S.Pd selaku guru sekaligus pengurus di MBS Wanasari yang mengelola jalannya MBG dengan lancar, menjelaskan bahwa kegiatan makan bergizi ini sangat penting bagi pembentukan karakter dan kesehatan para santri. “Kami sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program nasional ini. Dengan adanya MBG, para santri tidak hanya belajar ilmu agama dan akademik, tetapi juga dibiasakan hidup sehat melalui pola makan yang baik,” ujar Bu Nurul saat ditemui di sela kegiatan, Rabu (13/11). Setiap siang, ratusan santri MBS Wanasari berkumpul dan baris dengan rapih untuk menunggu giliran, dan menu bergizi yang disiapkan oleh dapur MBG. Menu tersebut bervariasi setiap harinya, mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah. Selain itu, santri juga mendapat tambahan susu kotak sebagai sumber kalsium dan energi tambahan. Salah satu santri kelas X Rifki mengaku senang dengan adanya program ini. “Makanannya enak dan sehat. Kami jadi lebih semangat belajar karena tidak merasa lemas. Susunya juga membuat kami lebih kuat untuk kegiatan sore,” tutur Rifki. Program MBG ini juga mendapat sambutan positif dari para pengurus sekolah dan wali santri. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat langsung terhadap kesehatan anak, tetapi juga mengajarkan pentingnya gizi seimbang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut keterangan pihak sekolah, kegiatan MBG ini akan terus dijalankan secara rutin setiap hari tanpa terkecuali. Setiap menu disusun dengan memperhatikan kebutuhan gizi remaja, termasuk kandungan vitamin dan mineral yang sesuai standar. Selain itu, pihak sekolah bekerja sama dengan ahli gizi lokal untuk memastikan keseimbangan nutrisi dalam setiap porsi makanan. Melalui program ini, MBS Wanasari berharap dapat mencetak generasi santri yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. “Kualitas sumber daya manusia Indonesia harus dimulai dari hal sederhana, seperti pola makan yang sehat. Dengan tubuh yang sehat, anak-anak akan lebih mudah menyerap ilmu dan berprestasi,” tambah Ibu Nurul. Program Makanan Bergizi (MBG) menjadi salah satu langkah nyata untuk mewujudkan visi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan anak bangsa. Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain di seluruh Indonesia untuk menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang. Seluruh santri MBS Wanasari kini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dapat berjalan selaras demi masa depan generasi muda Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.

News

Kajian Tarjih di MBS Wanasari: Memaknai Qadha dan Qadar sebagai Jalan Menuju Keteguhan Iman dan Ketenteraman Jiwa

Wanasari, 10 November 2025 — Dalam rangka memperkuat pemahaman keislaman dan memperdalam keyakinan terhadap ketetapan Allah, SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menggelar kegiatan Kajian Tarjih Guru, Ustadz, dan Ustadzah dengan tema “Qadha dan Qadar”. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Muhammadiyah Boarding School Wanasari pada Senin (10/11) pukul 07.00–07.40 WIB dan diikuti oleh seluruh guru, ustadz, serta ustadzah di lingkungan sekolah tersebut. Kajian yang diselenggarakan oleh MBS Wanasari ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang konsep qadha dan qadar sebagai bagian dari rukun iman yang keenam. Melalui kajian ini, diharapkan para peserta semakin mantap dalam beriman kepada ketetapan Allah, sehingga mampu menumbuhkan ketenangan jiwa, kesabaran, keikhlasan, serta rasa syukur dalam menjalani kehidupan. Narasumber kajian kali ini adalah Ustadz Saiev Dzaky, S.H., M.E., yang menyampaikan materi dengan gaya komunikatif dan penuh makna. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa keimanan kepada qadha dan qadar bukan hanya sekadar keyakinan pasif, tetapi harus diiringi dengan kesadaran untuk terus berusaha dan bertawakal kepada Allah. “Manusia diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah. Di sinilah letak keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal,” ujar Ustadz Saiev Dzaky dalam salah satu kutipannya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa memahami qadha dan qadar juga berarti mengakui kekuasaan Allah secara total dan menyadari keterbatasan manusia. Segala sesuatu yang terjadi, baik yang disukai maupun yang tidak, merupakan bagian dari kehendak dan pengetahuan Allah. “Iman kepada qadha dan qadar menegaskan bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Apa yang terjadi dalam hidup ini tidak pernah lepas dari kehendak-Nya. Sementara manusia sering kali memiliki harapan dan rencana, namun hasil akhirnya bisa berbeda karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik,” tuturnya menambahkan. Ustadz Saiev juga menyoroti pentingnya memahami bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi atas izin dan pengetahuan Allah. Keyakinan tersebut akan membawa seorang muslim kepada ketenangan batin dan keikhlasan dalam menghadapi berbagai situasi hidup. “Ketika seseorang benar-benar yakin bahwa segala sesuatu berada dalam pengaturan Allah, maka ia tidak akan mudah gelisah menghadapi cobaan, tidak sombong dalam keberhasilan, dan akan selalu bersyukur dalam segala keadaan,” jelasnya. Kegiatan kajian yang berlangsung selama empat puluh menit tersebut berjalan dengan khidmat dan interaktif. Para peserta tampak antusias menyimak penjelasan narasumber, beberapa di antaranya juga aktif mengajukan pertanyaan untuk memperdalam pemahaman mengenai tema yang dibahas. Melalui kegiatan ini, MBS Wanasari berharap dapat terus menumbuhkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembinaan spiritual. Dengan pemahaman yang benar tentang qadha dan qadar, para pendidik diharapkan mampu menularkan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur kepada peserta didik mereka. Kajian berakhir dengan doa bersama dan ajakan untuk senantiasa memperkuat iman melalui pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam. Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Saiev, “Meyakini qadha dan qadar bukanlah bentuk pasrah tanpa usaha, melainkan bentuk kesadaran penuh bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Mengatur segala sesuatu dengan hikmah yang sempurna.” Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SMA Muhammadiyah Boarding School Wanasari kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk pendidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual.

News

Transformasi Digital Pendidikan, SMA MBS Wanasari Gelar Pelatihan E-Raport untuk Guru

WANASARI, 11 November 2025 – Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru di bidang administrasi penilaian berbasis teknologi, SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan E-Raport pada Selasa (11/11/2025). Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Komputer SMA MBS Wanasari dan diikuti oleh seluruh dewan guru dengan penuh antusias. Pelatihan yang diprakarsai oleh Kepala Sekolah SMA MBS Wanasari ini bertujuan untuk mengintegrasikan sistem penilaian dan evaluasi belajar ke dalam platform digital, sehingga proses administrasi pendidikan dapat dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan akurat. Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu Bapak Kamal, M.P., yang berperan sebagai pembicara utama, dan Bapak Fatoni dari Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Wanasari. Keduanya memberikan materi yang saling melengkapi tentang implementasi teknologi dalam sistem penilaian serta pentingnya kesiapan administrasi guru dalam menghadapi digitalisasi pendidikan. Dalam materinya, Bapak Kamal menyampaikan pesan inspiratif kepada para guru agar tidak berhenti belajar dan terus mengikuti perkembangan teknologi. “Semoga Bapak Ibu guru terus semangat dan mengikuti perubahan serta perkembangan zaman. Dunia pendidikan berkembang begitu cepat. Oleh karena itu, kita harus terus berkarya dan belajar untuk menjadi pendidik yang hebat,” ujar Kamal dalam sesi pembukaan pelatihan. Menurutnya, penerapan e-raport bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagian dari transformasi budaya kerja di lingkungan pendidikan. Sistem digital memungkinkan penilaian dilakukan secara transparan, cepat, dan dapat diakses oleh berbagai pihak, termasuk siswa dan orang tua. Kamal menegaskan, guru masa kini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan zaman.Sementara itu, Bapak Fatoni dari Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Wanasari menekankan pentingnya kesiapan administrasi guru sebagai fondasi utama dalam pelaksanaan pembelajaran yang terencana. “Bapak Ibu hendaknya membuat rincian alokasi waktu minggu efektif dan perangkat pembelajaran lainnya. Ini wajib diisi karena menjadi dasar dalam penyusunan evaluasi dan penilaian siswa,” tutur Fatoni dengan tegas.Ia menambahkan, dengan adanya pelatihan ini diharapkan seluruh guru dapat memahami alur kerja sistem e-raport serta mampu menyusun perangkat ajar yang terintegrasi dengan penilaian digital. Menurutnya, langkah SMA MBS Wanasari dalam menggelar kegiatan ini menunjukkan komitmen kuat sekolah untuk menghadirkan pendidikan yang modern tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter dan keislaman yang menjadi ciri khas lembaga Muhammadiyah.Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para guru aktif bertanya dan mencoba langsung fitur-fitur dalam aplikasi e-raport yang diperkenalkan. Mereka belajar cara menginput nilai, mengelola data kehadiran, serta membuat deskripsi capaian kompetensi siswa secara otomatis. Kepala SMA MBS Wanasari menyampaikan apresiasi atas antusiasme para guru. Ia menilai pelatihan ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan digitalisasi administrasi pendidikan di lingkungan sekolah. “Kami ingin seluruh guru mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung tugas profesionalnya. Dengan e-raport, proses penilaian akan lebih cepat, transparan, dan akurat,” ujarnya.Melalui pelatihan ini, SMA MBS Wanasari menunjukkan langkah nyata dalam menghadapi tantangan era digital. Para guru tidak hanya dituntut menjadi pengajar yang baik, tetapi juga sebagai inovator dalam memanfaatkan teknologi pendidikan. “Transformasi digital di sekolah tidak akan berhasil tanpa keterlibatan guru. Karena itu, kegiatan seperti ini harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” pungkas Kamal menutup sesi pelatihan.Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berkembang, guru-guru SMA MBS Wanasari kini semakin siap menghadapi era baru pendidikan berbasis teknologi.

News

Direktur MBS Wanasari Tekankan Pentingnya Introspeksi Diri bagi Guru dalam Pembinaan Profesionalisme

Wanasari, Brebes — Dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan kompetensi tenaga pendidik, SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menggelar kegiatan “Pembinaan Guru Bersama Direktur SMP MBS Wanasari” pada Senin, 10 November 2025. Kegiatan tersebut berlangsung di ruang guru SMP MBS Wanasari mulai pukul 07.00 hingga 07.40 WIB, dan diikuti oleh seluruh guru serta staf sekolah. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen MBS Wanasari dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Pembinaan tersebut bertujuan untuk mendorong para guru agar senantiasa meningkatkan profesionalisme, kompetensi, serta kinerja dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik. Direktur Muhammadiyah Boarding School Wanasari, Ustaz M. Al-Hadad, S.Pd.I, yang bertindak sebagai narasumber utama, menyampaikan pesan penting tentang peran dan keteladanan seorang guru di lingkungan sekolah berbasis boarding. Dalam pembinaannya, beliau menekankan bahwa guru tidak hanya bertanggung jawab dalam hal akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter para santri melalui teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Kita sebagai guru harus introspeksi diri untuk menjadi lebih baik. Para santri mengikuti perilaku kita, contohnya seperti salat berjamaah di masjid. Di awal tahun ini, mari kita bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Ustadz Al-Hadad di hadapan para guru dan staf. Menurut beliau, guru merupakan figur sentral dalam proses pembelajaran dan pembentukan akhlak peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk senantiasa memperbaiki diri, menjaga integritas, dan memperkuat komitmen dalam menjalankan amanah pendidikan. Ia menambahkan bahwa perubahan positif di lingkungan sekolah akan dimulai dari para pendidiknya terlebih dahulu. Kegiatan pembinaan ini juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh guru dan staf SMP MBS Wanasari untuk menilai kembali kinerja, kedisiplinan, dan komitmen terhadap visi serta misi sekolah. Dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan, para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut, mendengarkan arahan serta motivasi dari pimpinan sekolah. Salah satu guru peserta kegiatan, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa pembinaan seperti ini sangat bermanfaat untuk memperkuat semangat dan tanggung jawab dalam mendidik santri. “Kegiatan ini menjadi pengingat bagi kami agar selalu menjadi contoh yang baik bagi para santri, baik dalam hal kedisiplinan maupun ibadah,” ujarnya. Selain menyampaikan nasihat dan motivasi, Ustaz Al-Hadad juga mengajak seluruh tenaga pendidik untuk terus belajar dan berinovasi dalam metode pengajaran. Menurutnya, guru yang profesional adalah guru yang tidak berhenti belajar dan selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai dasar pendidikan di lingkungan MBS. Dengan terselenggaranya pembinaan tersebut, diharapkan seluruh guru dan staf SMP Muhammadiyah Boarding School Wanasari dapat semakin bersemangat dalam melaksanakan tugasnya, serta mampu menjadi teladan yang baik bagi para santri, baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan komitmen seluruh peserta untuk terus meningkatkan kualitas diri demi kemajuan sekolah dan keberhasilan pendidikan di Muhammadiyah Boarding School Wanasari.

News

Santri Brebes Tunjukkan Semangat Juang di POPDA 2025: Buktikan Olahraga Milik Semua

Brebes, 6 November 2025 — Semangat olahraga dan sportivitas terpancar dari wajah para santri peserta Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat Kabupaten Brebes yang digelar di Stadion Karang Birahi, Brebes, Kamis (6/11). Kegiatan ini menjadi ajang pembuktian bahwa olahraga bukan hanya milik kalangan umum, tetapi juga bagian dari pembinaan karakter santri, baik putra maupun putri. POPDA tingkat kabupaten tahun ini diikuti oleh tujuh santri yang sebelumnya berhasil lolos dari seleksi tingkat kecamatan. Mereka mewakili cabang olahraga atletik, yakni Nizar lari 1.500m, Sobir tolak peluru, Fahmi Lompat Jauh, Nafiz Lempar Lembing, Irham lari 400m, Syafika tolak peluru, dan Zahra Lempar Lembing. Para santri tersebut berasal dari kelas X (sepuluh), dan kelas XI (sebelas) SMA MBS Wanasari. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Panitia POPDA Kabupaten Brebes ini bertujuan untuk melatih kesiapan siswa agar berani tampil dengan percaya diri serta mengasah kemampuan yang dimiliki. Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, dan mental juang pelajar di Kabupaten Brebes. Menurut guru olahraga yang turut mendampingi peserta, Pak Aji, POPDA bukan sekadar perlombaan untuk meraih medali, tetapi juga momentum penting untuk mengasah kepercayaan diri. “Anak-anak harus percaya diri. Kalah menang itu bonus. Saya sangat menghargai semangat kalian untuk membawa nama baik sekolah dan pondok pesantren,” ujar Pak Aji saat ditemui seusai pertandingan. Beliau menambahkan, partisipasi santri dalam kegiatan olahraga merupakan bukti bahwa dunia pesantren kini semakin terbuka terhadap pengembangan minat dan bakat non-akademik. “Selama ini, banyak yang berpikir bahwa santri hanya fokus belajar agama. Padahal, olahraga juga bagian dari pembentukan karakter dan kesehatan jasmani,” tuturnya. Menariknya, pada POPDA tahun ini, partisipasi santriwati mendapat perhatian khusus. Dua di antara tujuh peserta merupakan santriwati yang berkompetisi dalam cabang olahraga atletik. Mereka menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya dominasi laki-laki, melainkan ruang bagi semua untuk mengekspresikan kemampuan dan keberanian. Salah satu santriwati peserta lomba tolak peluru yaitu Syafika, mengaku bangga bisa mewakili sekolah dan pondok pesantrennya. “Awalnya saya ragu karena belum pernah tampil sampai ke tingkat Kabupaten, tapi setelah latihan dan mendapat dukungan dari teman-teman serta guru, saya jadi percaya diri,” katanya dengan semangat. Suasana di Stadion Karang Birahi tampak meriah sejak pagi. Sorak dukungan dari teman-teman sekolah dan guru pendamping membuat suasana pertandingan semakin semarak. Para peserta tampak berusaha menampilkan kemampuan terbaik mereka di lintasan dan lapangan. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan para pelajar, khususnya santri, semakin termotivasi untuk menyeimbangkan antara kecerdasan spiritual, intelektual, dan fisik. POPDA tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga wahana pembentukan karakter generasi muda yang tangguh, disiplin, dan berjiwa sportif. “Yang terpenting bukan sekadar juara, tapi bagaimana anak-anak bisa berani tampil dan belajar menghargai proses,” tutup Pak Aji. Melalui semangat POPDA 2025, para santri Brebes telah menunjukkan bahwa olahraga adalah bahasa universal yang mampu mempersatukan, menginspirasi, dan meneguhkan keyakinan bahwa setiap individu berhak tampil membanggakan, tanpa memandang latar belakangnya.

Scroll to Top