News & Article

News

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 di MBS Wanasari: Momentum Perbaikan Mutu, Penguatan Karakter, dan Penyatuan Visi Tenaga Pendidik

Brebes — Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menggelar kegiatan Pembinaan dan Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 pada Senin, 17 November 2025, bertempat di Aula MBS Wanasari. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.20 hingga 10.00 WIB ini diikuti oleh seluruh guru, staf, ustadz, dan ustadzah dari jenjang SMP dan SMA. Acara dipimpin langsung oleh Direktur MBS Wanasari, Ustadz Muhammad Al Hadad, S.Pd.I, dan diselenggarakan oleh MBS Wanasari sebagai bagian dari agenda refleksi internal lembaga. Dengan tema besar refleksi perjalanan Muhammadiyah yang telah mencapai usia 113 tahun, acara ini tidak hanya menjadi momen syukur atas perjuangan panjang persyarikatan, tetapi juga sebagai ajang evaluasi dan penyatuan langkah seluruh tenaga pendidik di MBS Wanasari. Direktur MBS menegaskan bahwa usia 113 tahun bukanlah usia yang muda. Menurutnya, perjalanan Muhammadiyah adalah bukti kesungguhan dan keteguhan dalam membangun peradaban melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Ia menambahkan bahwa perjalanan MBS Wanasari pada tahun ini pun menjadi masa yang cukup berat dan penuh tantangan. Karena itu, refleksi menjadi sangat penting agar seluruh pendidik dapat kembali pada tujuan awal lembaga. Dalam penyampaiannya, Ustadz Muhammad Al Hadad menekankan pentingnya penguatan karakter tenaga pendidik. Ia menyampaikan bahwa seluruh guru, ustad, dan ustadzah harus kembali pada visi dan misi MBS Wanasari yang menekankan keteladanan. “Kita harus menjadi teladan untuk santri, mulai dari cara berpakaian, kedisiplinan, hingga konsistensi melaksanakan salat berjamaah di masjid. Kemudian, kita harus menghindari konflik internal agar suasana pondok tetap kondusif,” ujarnya. Peningkatan Mutu Pendidikan Jadi Fokus Utama Refleksi pertama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah harapan besar agar MBS Wanasari dapat menjadi lembaga pendidikan yang lebih baik dan lebih maju. Para peserta berharap adanya peningkatan kualitas, baik dari aspek pendidikan umum maupun pendidikan kepesantrenan. Peningkatan mutu ini, menurut pembicara, perlu diarahkan agar MBS Wanasari semakin diminati para orang tua. Dengan demikian, MBS diharapkan menjadi tempat belajar yang dipercaya masyarakat. Dalam refleksi tersebut disampaikan pula bahwa mutu pendidikan merupakan faktor utama dalam membangun citra positif di mata wali santri. Apabila lembaga mampu menunjukkan kualitas yang menjanjikan, kepercayaan masyarakat akan meningkat. Hal ini juga menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan pendidikan dan memperkuat keberadaan MBS Wanasari di Kabupaten Brebes. Ajakan Menyatukan Hati dan Pikiran Salah satu guru SMP MBS Wanasari, Ibu Puspita, S.Pd, turut memberikan pandangannya dalam sesi refleksi. Ia menyampaikan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan amanah pendidikan. “Satukan hati dan pikiran agar nantinya MBS bisa satu jalan dan satu tujuan,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan lembaga sangat bergantung pada keselarasan gerak para pendidiknya. Tanpa kebersamaan, setiap program akan berjalan tidak efektif dan sulit mencapai sasaran. Ia menekankan bahwa tenaga pendidik harus memiliki kesadaran kolektif bahwa setiap kebijakan dan kegiatan di MBS Wanasari membutuhkan dukungan dari semua pihak. Dengan kebersamaan tersebut, suasana kerja yang harmonis dapat tercipta, sehingga memberikan dampak positif bagi santri. Evaluasi Diri dan Perbaikan Pelayanan Pendidikan Dalam pembahasan berikutnya, para peserta refleksi menyoroti adanya penurunan tertentu yang terjadi akhir-akhir ini. Penurunan tersebut, menurut mereka, mungkin dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Di antara faktornya adalah menurunnya kepercayaan wali santri terhadap lembaga. Salah satu penyebabnya dapat berasal dari kurangnya kepedulian tenaga pendidik dalam membina santri. Dalam kesempatan itu disampaikan bahwa tenaga pendidik harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja masing-masing. Evaluasi ini mencakup cara berkomunikasi, cara membimbing, hingga bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan positif. Upaya introspeksi diri tersebut menjadi sangat penting agar kepercayaan wali santri dapat kembali meningkat. Selain itu, perubahan juga perlu dilakukan dalam sistem pengelolaan pendidikan di pondok maupun sekolah. Dengan konsistensi dalam pembinaan, tenaga pendidik diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh potensi santri, baik akademik maupun nonakademik. Kekompakan dan Tanggung Jawab Kolektif Sesi refleksi juga diwarnai dengan penyampaian pesan dari Ustadz Hendi Sudono, penanggung jawab kemuhammadiyahan di MBS Wanasari Brebes. Ia menyampaikan bahwa membangun lembaga adalah hal yang mudah, namun mempertahankannya adalah tantangan berat. “Membangun itu mudah, namun mempertahankannya yang susah. Kita harus kompak, kerja sama, dan merasa memiliki tanggung jawab atas amanah yang diemban,” tuturnya. Ustadz Hendi menambahkan bahwa kekompakan bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi juga tentang saling menghargai peran masing-masing. Menurutnya, sebuah lembaga dapat bertahan kuat apabila seluruh elemen di dalamnya memiliki rasa kepemilikan dan komitmen yang sama besar. Motivasi untuk Terus Berprasangka Baik dan Berikhtiar Penutup kegiatan diisi dengan motivasi dari Ustadz Saiev Dzaky K., S.H., M.E. Ia mengingatkan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang memiliki prasangka baik. “Allah bersama hamba-hamba yang memiliki prasangka baik, maka kita harus selalu husnuzan dan selalu berikhtiar,” ucapnya. Pesan ini menjadi penyemangat bagi para pendidik agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi dinamika lembaga. Ia juga mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk terus menjaga integritas, semangat belajar, serta keikhlasan dalam mendidik santri. Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh struktur dan sistem, tetapi juga oleh ketulusan hati para pendidiknya. Kegiatan Pembinaan dan Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 di MBS Wanasari ini menjadi momentum penting bagi seluruh tenaga pendidik untuk menyegarkan semangat, menyatukan langkah, dan memperkuat kembali komitmen dalam membina santri. Dengan berbagai masukan, evaluasi, dan motivasi yang diberikan, MBS Wanasari berharap dapat terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang maju, terpercaya, dan mampu mencetak generasi berakhlak mulia.

Uncategorized

Sinergi Pendidik dalam Pembinaan Santri: Menegaskan Posisi Pondok sebagai Benteng Terakhir KaderisasiPersyarikatan

Brebes — Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) melalui pembinaan yang disampaikan oleh Bapak Yunus Anis memberikan dorongan kuat bagi para guru, ustad, ustadzah, serta seluruh tenaga kependidikan Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari Brebes untuk semakin memperkuat peran mereka sebagai pendidik dan pembimbing santri. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 17 November 2025, di Aula MBS Wanasari Brebes ini diselenggarakan oleh MBS Wanasari Brebes dan diikuti oleh seluruh guru, staf, ustad, serta ustadzah dari jenjang SMP dan SMA Muhammadiyah Wanasari Brebes. Pembinaan yang dilaksanakan sejak pukul 07.00 hingga 08.20 WIB tersebut bertujuan untuk membangun refleksi bagi para pendidik agar lebih dekat, merangkul, dan memahami santri maupun santriwati dalam berbagai dinamika yang mereka hadapi. Menurut Bapak Yunus Anis, tugas pendidik bukan hanya mengajar, melainkan juga mendampingi proses kehidupan para santri. “Kita menjalankan tugas mulia, mendidik para santri dan santriwati yang memiliki banyak problematika. Semoga hal ini menjadi proses pendewasaan bagi kita—guru, ustad, dan ustadzah—dalam menghadapi para santri,” ungkapnya dalam sesi pembinaan. Salah satu poin yang disoroti adalah kedisiplinan, baik di kalangan santri maupun para pendidik. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan keberangkatan santri kini semakin terpantau jelas dan harus menjadi contoh bagi para guru. “Kemudian para guru juga harus siap melaksanakan tugas tepat waktu,” ujarnya. Kedisiplinan, lanjutnya, bukan sekadar hadir tepat waktu, tetapi juga mampu menyelesaikan tugas secara efektif. “Disiplin itu tepat waktu, dan pulang cepat waktu,” tambahnya. Dalam pembinaan tersebut, Yunus Anis juga menekankan pentingnya pondok pesantren sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa pesantren merupakan benteng terakhir dalam menyiapkan generasi penerus persyarikatan. “Bahwa benteng terakhir untuk pengkaderan Muhammadiyah sebagai generasi penerus adalah pondok pesantren,” tuturnya. Oleh karena itu, para ustad dan ustadzah diharapkan semakin aktif, tidak hanya dalam penguatan kemampuan internal peserta didik, tetapi juga dalam publikasi dan peran sosial. Menurutnya, kemampuan santri harus dapat terlihat baik melalui media sosial maupun aktivitas nyata di masyarakat. Selain itu, ia mengingatkan bahwa hasil dari kerja keras pendidik akan memberikan dampak besar bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. “Saya akan mendapatkan sesuatu itu oleh keringat saya,” ujarnya, menegaskan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan membawa manfaat yang dapat dirasakan banyak pihak. Yunus Anis juga mengingatkan tentang kebutuhan emosional santri. Pada usia mereka, perhatian dari ustad dan ustadzah sangat penting untuk membangun kedekatan. Ia menambahkan bahwa santri membutuhkan ruang untuk merasa dihargai dan didengar. Dengan demikian, kelak mereka dapat bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka diperhatikan oleh para pembimbingnya. Di akhir sesi, ia mendorong agar pembelajaran di kelas maupun di pondok dapat mengalami perubahan yang lebih baik. Target peningkatan jumlah siswa pada tahun ajaran 2026/2027 juga menjadi perhatian. Peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan marketing sekolah disebut sebagai langkah penting agar santri merasa nyaman dan betah berada di lingkungan pesantren. Kegiatan pembinaan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi momen evaluasi dan penguatan komitmen seluruh pendidik MBS Wanasari Brebes dalam mencetak generasi unggul, disiplin, dan berkarakter. Dengan semangat baru, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi seluruh santri.

News

Tim Media MBS Wanasari Perkuat Kompetensi pada Pelatihan Manajemen Reputasi Digital PCM Wanasari

Wanasari, 16 November 2025 — Tim Media MBS Wanasari turut berpartisipasi dalam Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wanasari pada Ahad (16/11) di SMK Muhammadiyah Wanasari. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para pengelola media Aum serta Ranting untuk meningkatkan wawasan sekaligus memperkuat keterampilan dalam mengelola informasi di ruang digital secara profesional, akurat, dan berbasis nilai persyarikatan. Pelatihan menghadirkan dua narasumber kompeten yang memberikan materi secara komprehensif. Lukmanul Hakim, praktisi media digital, membawakan materi seputar dinamika media digital, pergeseran perilaku konsumsi informasi, serta strategi menjaga reputasi organisasi di era serbadigital. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa reputasi digital tidak hanya dibangun oleh konten yang diunggah secara resmi, tetapi juga oleh interaksi warga organisasi dalam aktivitas bermedia. “Setiap unggahan yang berhubungan dengan lembaga akan membentuk persepsi publik. Karena itu, tim media harus memahami etika digital, kecepatan menangkap isu, serta ketepatan merespons informasi. Reputasi di internet mudah naik, tetapi juga mudah turun bila tidak dikelola dengan baik,” ujar Lukmanul Hakim. Ia menambahkan bahwa konsistensi dalam menyajikan informasi yang bermanfaat, beretika, dan menggambarkan karakter Islami merupakan kunci menjaga citra organisasi. Sesi berikutnya dipandu oleh Thoridin, praktisi jurnalistik yang berpengalaman dalam penulisan berita. Ia menyampaikan materi mengenai teknik penulisan berita yang tajam, sistematis, dan sesuai kaidah KBBI. Tholidin menjelaskan bahwa kualitas informasi sangat dipengaruhi oleh ketelitian dalam memilih data, sudut pandang, serta kemampuan menyusun narasi informatif yang mudah dipahami pembaca. “Berita yang baik bukan sekadar panjang, tetapi harus tepat sasaran. Penulis wajib memenuhi unsur 5W+1H, menghadirkan fakta yang dapat diverifikasi, dan menghindari bahasa hiperbolis. Di era digital, berita yang rapi dan kredibel adalah aset penting organisasi,” ujarnya. Ia kemudian memberikan latihan kepada peserta, termasuk Tim Media MBS Wanasari, untuk membuat lead berita yang kuat serta menyusun struktur piramida terbalik yang menjadi ciri khas penulisan jurnalistik modern. Keikutsertaan Tim Media MBS Wanasari mendapat apresiasi dari penyelenggara, mengingat peran media sekolah kini semakin strategis dalam menyampaikan program, prestasi, serta kegiatan pendidikan kepada masyarakat. Pelatihan ini dianggap sebagai langkah tepat untuk meningkatkan profesionalisme tim sekaligus memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan PCM Wanasari. Ketua PCM Wanasari dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk meningkatkan kapasitas kader dan pegiat media agar lebih siap menghadapi tantangan era informasi. Menurutnya, reputasi digital merupakan aset penting dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif yang mengulas berbagai persoalan terkait etika publikasi, pengelolaan akun resmi, serta tips menyajikan konten pendidikan secara menarik tanpa mengurangi nilai informatifnya. Para peserta, termasuk Tim Media MBS Wanasari, tampak antusias mengikuti setiap sesi dan berharap pelatihan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Tim Media MBS Wanasari diharapkan semakin mampu menghasilkan publikasi yang profesional, akurat, dan mencerminkan karakter Islami, sehingga dapat memperkuat reputasi lembaga di mata masyarakat. Pelatihan ini menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan media yang berkualitas dan bertanggung jawab di era digital.

Scroll to Top