Sinergi Pendidik dalam Pembinaan Santri: Menegaskan Posisi Pondok sebagai Benteng Terakhir KaderisasiPersyarikatan

Brebes — Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) melalui pembinaan yang disampaikan oleh Bapak Yunus Anis memberikan dorongan kuat bagi para guru, ustad, ustadzah, serta seluruh tenaga kependidikan Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari Brebes untuk semakin memperkuat peran mereka sebagai pendidik dan pembimbing santri. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 17 November 2025, di Aula MBS Wanasari Brebes ini diselenggarakan oleh MBS Wanasari Brebes dan diikuti oleh seluruh guru, staf, ustad, serta ustadzah dari jenjang SMP dan SMA Muhammadiyah Wanasari Brebes.

Pembinaan yang dilaksanakan sejak pukul 07.00 hingga 08.20 WIB tersebut bertujuan untuk membangun refleksi bagi para pendidik agar lebih dekat, merangkul, dan memahami santri maupun santriwati dalam berbagai dinamika yang mereka hadapi. Menurut Bapak Yunus Anis, tugas pendidik bukan hanya mengajar, melainkan juga mendampingi proses kehidupan para santri. “Kita menjalankan tugas mulia, mendidik para santri dan santriwati yang memiliki banyak problematika. Semoga hal ini menjadi proses pendewasaan bagi kita—guru, ustad, dan ustadzah—dalam menghadapi para santri,” ungkapnya dalam sesi pembinaan.

Salah satu poin yang disoroti adalah kedisiplinan, baik di kalangan santri maupun para pendidik. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan keberangkatan santri kini semakin terpantau jelas dan harus menjadi contoh bagi para guru. “Kemudian para guru juga harus siap melaksanakan tugas tepat waktu,” ujarnya. Kedisiplinan, lanjutnya, bukan sekadar hadir tepat waktu, tetapi juga mampu menyelesaikan tugas secara efektif. “Disiplin itu tepat waktu, dan pulang cepat waktu,” tambahnya.
Dalam pembinaan tersebut, Yunus Anis juga menekankan pentingnya pondok pesantren sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa pesantren merupakan benteng terakhir dalam menyiapkan generasi penerus persyarikatan. “Bahwa benteng terakhir untuk pengkaderan Muhammadiyah sebagai generasi penerus adalah pondok pesantren,” tuturnya. Oleh karena itu, para ustad dan ustadzah diharapkan semakin aktif, tidak hanya dalam penguatan kemampuan internal peserta didik, tetapi juga dalam publikasi dan peran sosial. Menurutnya, kemampuan santri harus dapat terlihat baik melalui media sosial maupun aktivitas nyata di masyarakat.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa hasil dari kerja keras pendidik akan memberikan dampak besar bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. “Saya akan mendapatkan sesuatu itu oleh keringat saya,” ujarnya, menegaskan bahwa setiap usaha yang dilakukan akan membawa manfaat yang dapat dirasakan banyak pihak.

Yunus Anis juga mengingatkan tentang kebutuhan emosional santri. Pada usia mereka, perhatian dari ustad dan ustadzah sangat penting untuk membangun kedekatan. Ia menambahkan bahwa santri membutuhkan ruang untuk merasa dihargai dan didengar. Dengan demikian, kelak mereka dapat bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka diperhatikan oleh para pembimbingnya.

Di akhir sesi, ia mendorong agar pembelajaran di kelas maupun di pondok dapat mengalami perubahan yang lebih baik. Target peningkatan jumlah siswa pada tahun ajaran 2026/2027 juga menjadi perhatian. Peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan marketing sekolah disebut sebagai langkah penting agar santri merasa nyaman dan betah berada di lingkungan pesantren.

Kegiatan pembinaan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga menjadi momen evaluasi dan penguatan komitmen seluruh pendidik MBS Wanasari Brebes dalam mencetak generasi unggul, disiplin, dan berkarakter. Dengan semangat baru, para guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi seluruh santri.

Tags :
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top