
“Cerita dari Balik Asap Dapur MBS Wanasari”
Wanasari, 7 November 2025 — Di balik ketertiban dan kemandirian para santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari, ada satu bagian penting yang bekerja tanpa henti setiap hari: Dapur MBS Wanasari. Dapur ini berperan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan seluruh santri, baik tingkat SMP maupun SMA, sekaligus menjadi wadah pembelajaran tentang disiplin, kebersihan, dan kesederhanaan dalam kehidupan pesantren. (7/11) Kegiatan dapur MBS Wanasari berlangsung sepanjang hari dengan sistem tiga shift. Setiap shift memiliki jam kerja yang sudah diatur rapi, yaitu shift pagi pukul 06.30–14.00, shift siang pukul 14.00–19.30, dan shift malam pukul 19.30–02.30. Walaupun ada jadwal MBG dari kami tetap masak walaupun dengan porsi yang sedikit. Dengan pembagian waktu seperti ini, kebutuhan makan para santri dapat terpenuhi secara berkelanjutan tanpa mengganggu aktivitas belajar dan ibadah mereka. Selain kegiatan harian, dapur juga memiliki peran penting dalam menyiapkan hidangan khusus bagi para santri yang menjalankan ibadah puasa Senin dan Kamis. Persiapan makanan untuk sahur dan berbuka dilakukan dengan cermat agar para santri tetap berenergi dalam menjalankan kegiatan pesantren, sekaligus mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Budhe Idha, selaku Kepala Dapur MBS Wanasari, menjadi sosok sentral dalam pengelolaan kegiatan ini. Ia dikenal telaten dan dekat dengan para santri. Dalam wawancara dengan tim redaksi, ia menyampaikan rasa bangganya terhadap kebiasaan santri yang kini semakin sadar akan pentingnya makan sesuai kebutuhan. “Saya senang kalau anak-anak bisa makan sesuai dengan porsi mereka, tidak mubadzir. Boleh banyak, boleh sedikit, agar tidak berebut, kadang mereka ambil sendiri, kadang juga saya ambilkan kalau kondisinya sedang ramai sekali” ujar Budhe Idha saat ditemui di sela-sela kesibukannya di dapur. Menurutnya, sistem makan di MBS Wanasari dibuat dengan konsep self-service atau ambil sendiri. Santri diberi kebebasan menentukan porsi masing-masing, namun tetap diajarkan untuk tidak berlebihan. Dengan cara ini, para santri belajar mengendalikan diri, memahami batas kebutuhan, dan menghargai makanan. Kegiatan dapur MBS Wanasari juga memiliki tujuan mulia, yakni memenuhi kebutuhan pangan para santri dengan asupan bergizi seimbang yang terdiri dari sumber protein, sayur, dan lauk pauk yang bervariasi setiap hari. Menu yang disajikan disesuaikan dengan selera umum santri sekaligus memenuhi standar gizi agar mereka tetap sehat dan bersemangat dalam belajar. Selain memasak, para petugas dapur juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan dapur dan memastikan semua bahan makanan segar serta aman dikonsumsi. Dengan rutinitas yang padat dan disiplin tinggi, seluruh anggota tim dapur menunjukkan dedikasi luar biasa dalam melayani kebutuhan ratusan santri setiap hari. “Kerja di dapur pesantren bukan hanya soal memasak, tapi juga soal ibadah dan pengabdian,” kata salah satu tim dapur lainnya. Ia menambahkan bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan para santri memberikan rasa bahagia tersendiri karena dianggap sebagai bagian dari amal jariyah. Melalui kegiatan Dapur MBS Wanasari ini, nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab, dan rasa syukur terus ditanamkan kepada seluruh santri. Bukan hanya soal makan, tetapi juga soal bagaimana menghargai nikmat Tuhan, saling berbagi, dan menjaga kebersamaan di lingkungan pesantren. Dengan semangat melayani dan prinsip “tidak mubazir,” dapur MBS Wanasari menjadi contoh nyata bahwa kebersamaan dan kesederhanaan bisa menjadi kunci terciptanya kesejahteraan di lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Dapur MBS Wanasari menjadi bukti nyata bagaimana pesantren tidak hanya mendidik santri dalam bidang ilmu agama dan akademik, tetapi juga membentuk karakter melalui kegiatan sehari-hari yang penuh nilai moral. Melalui kebiasaan makan teratur, mandiri, dan tidak berlebihan, pesantren berupaya menanamkan prinsip hidup sederhana dan penuh rasa syukur sejak dini.








