Literasi Digital “Stop Bullying” Gaung di MBS Wanasari, Ajak Santri Bijak Bermedia Sosial by Smartfreen

 

Wanasari – Upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan terus digalakkan. SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Wanasari menggelar kegiatan Literasi Digital bertema “Stop Bullying” pada Sabtu, Desember 2025. Kegiatan ini menghadirkan Farellino Tegoh Prasetio, Trainee XLSMART sekaligus Duta Pendidikan Muda Indonesia, sebagai narasumber utama.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh MBS Wanasari tersebut berlangsung di lingkungan SMP Muhammadiyah Boarding School Wanasari dan diikuti oleh seluruh santri. Literasi digital ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membentuk karakter santri yang berakhlak mulia, berempati, serta cakap dalam memanfaatkan teknologi digital secara bertanggung jawab.

Dalam pemaparannya, Farellino menekankan pentingnya pemahaman mengenai bahaya bullying, baik secara verbal, nonverbal, maupun dalam bentuk cyber bullying. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial yang sangat pesat menuntut generasi muda untuk memiliki literasi digital yang baik agar tidak terjerumus menjadi pelaku maupun korban perundungan di ruang digital.

“Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan gawai atau media sosial, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap, beretika, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan orang lain,” ujar Farellino dalam sesi penyampaian materi.

Ia menambahkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana positif untuk belajar dan berkarya jika digunakan dengan bijak. Sebaliknya, penggunaan yang tidak bertanggung jawab dapat melukai orang lain dan meninggalkan dampak psikologis jangka panjang bagi korban bullying.

Dalam salah satu bagian penyampaiannya, Farellino menyampaikan kutipan yang menyentuh dan menggugah kesadaran para santri. “Kita adalah kertas, jika sudah diremas kemudian tidak akan kembali semula, hati seorang korban bullying juga seperti itu. Dia bisa sembuh, tetapi masih membekas, dan tidak akan pernah lupa. Jadi mari kita berjanji jangan menjadi pembuli,” tegasnya.

Menurut Farellino, perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa luka batin akibat perundungan tidak selalu terlihat, namun dampaknya sangat nyata. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh santri untuk berani berkata tidak terhadap segala bentuk bullying dan saling menjaga satu sama lain, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengembangkan pengetahuan santri mengenai pentingnya menghentikan praktik bullying serta membangun kesadaran untuk menggunakan media sosial secara bijak. Selain itu, literasi digital ini juga diharapkan dapat mendorong santri memanfaatkan teknologi sebagai sarana positif untuk belajar, berdakwah, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Pihak SMP MBS Wanasari menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah. Melalui kegiatan literasi digital, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, emosional, dan digital, serta memiliki empati yang tinggi terhadap sesama.

Dengan adanya kegiatan Literasi Digital “Stop Bullying” ini, MBS Wanasari berharap dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan, sekaligus melahirkan generasi muda yang bijak dan beretika dalam memanfaatkan teknologi digital.

Tags :
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top